Publik Menanti Kejelasan dan Ketegasan KPK maupun Majelis Hakim: Apakah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa Akan Dihadirkan Sebagai Saksi Seperti Sidang Sebelumny? Apakah Pengadilan Tipikor Akan Menyiapkan Tempat Transit Jika Dihadirkan?
BERITAKORUPSI.CO –
Ruang sidang Cakra Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada PN Surabaya, Kamis 29 Oktober 2026, sempat diwarnai ketegangan. Zaenal Afif Subekti, saksi kunci sekaligus Justice Collaborator (JC) dalam kasus korupsi "uang ijon" Dana Hibah Pokir DPRD Jatim, memberikan keterangan yang bertolak belakang dengan persidangan-persidangan sebelumnya.
Jika pada sidang terdahulu Zaenal mengakui menerima uang dan KPK telah menyita Rp1,4 miliar dari rumahnya, kali ini ia justru bersikeras tidak mendapatkan apa-apa. Ketidakkonsistenan ini pun memancing kecurigaan Ketua Majelis Hakim, Ratna Dianing, SH., MH
Sidang kali ini menyidangkan perkara korupsi dana hibah Pokir DPRD Jatim periode 2019–2024 milik Anwar Sadat Selaku Wakil Ketua DPRD Jatim dari Fraksi Gerindra yang saat ini sebagai anggota DPR RI periode 2024-2029 sebesar Rp291.692.696.000, yang bersumber dari APBD Pemprov Jatim Tahun Anggaran 2019–2022 senilai Rp9.061.137.510.064.
Agenda sidang kali ini adalah mendengarkan keterangan saksi sebanyak 16 untuk empat terdakwa selalu koordinator Hibah Pokir milik Anwar Sadat
Keempat terdakwa itu adalah Moch. Mahrus (anggota DPRD Jatim terpilih 2024-2029), Achmad Yahya, M. Fathullah, dan RA Wahid Ruslan.
Saksi Kunci yang "Pensiun Dini"
Dalam sidang yang berlangsung di ruang sidang Cakra Pengadilan Tipikor pada PN Surabaya (Kamis, 29 Oktober 2026), dipimpin Ketua Majelis Hakim Ratna Dianing, SH., MH, bersama dua Hakim anggota, Dr. Agus Kasiyanto, SH., MH., M.Kn dan Samhadi, SH., MH masing-masing Hakim Ad Hock, serta dibantu Panitera Pengganti (PP). Sementara para terdakwa dihadirkan langsung di ruang sidang dengan didampingi Tim Advokat atau Penasehat Hukum-nya, Suryono Pane, SH., MH, dkk
JPU KPK Handoko Alfiantoro dan Tim menghadirkan sebanyak 16 saksi. Mereka terbagi dalam dua klaster: 12 saksi dari unsur Kelompok Masyarakat (Pokmas) dan 4 saksi dari unsur pemerintahan, termasuk Zaenal Afif Subekti (mantan Kasubbag Rapat dan Risalah Kesekretariatan DPRD Jatim), Ikmal Putra (Subkor Perencanaan Bappeda Jatim), Aryo Dwi Wiratno (PPK Dinas PU Bina Marga Jatim), dan Baju Tri Hapsoro (mantan Kadis PU SDA Jatim).
Bagi Zaenal, ini bukan pertama kalinya Ia duduk di kursi saksi. Ini adalah kali ketiga Ia dihadirkan. Sebelumnya, Ia menjadi saksi dalam perkara terpidana Sahat Tua P Simanjuntak (Wakil Ketua DPRD Jatim dari F-Golkar yang tertangkap tangan atau OTT KPK pada Desember 2022), serta perkara empat terdakwa terkait dana hibah Pokir milik almarhum Kusnadi (mantan Ketua DPRD Jatim).
Bahkan, Zaenal kemungkinan masih akan terus dipanggil sebagai saksi untuk puluhan atau mungkin ratusan tersangka lainnya hingga kasus ini mencapai klimaks pembuktian. Saking seringnya dipanggil, KPK berpesan agar Zaenal tetap menjaga kesehatan.
"KPK bilang, 'masih kami panggil ya, jadi tetap jaga kesehatan ya.' Saya sebenarnya sudah mengajukan pensiun dini sejak 2022 sebelum OTT, tapi tidak disetujui. Baru setelah OTT, di tahun 2023, pengajuan saya disetujui," cerita Zaenal kepada beritakorupsi.co sebelum sidang dimulai.
"Malu dan nggak kuat melihat orang-orang sama seperti kasus P2SEM dulu. Jadi setelah OTT baru pengajuan pensiun disini langsung di proses jadi saya dapat pensiun tujuh puluh persen," ungkapnya kemudian
Namun, di balik statusnya sebagai JC, keselamatan Zaenal tentu menjadi sorotan. Kasus ini bukan perkara kecil. Sebagai Kasubbag Rapat dan Risalah pada 2019-2022, "hitam putihnya" proses pengajuan proposal dari puluhan ribu Pokmas di Jatim ada di tangannya.
Fakta Persidangan vs Keterangan Baru
Usut punya usul, pada fakta persidangan sebelumnya terungkap bahwa seluruh proposal pengajuan dana hibah dari ribuan Pokmas atas usulan 120 anggota DPRD Jatim dikumpulkan oleh Zaenal, lalu disalurkan ke OPD terkait. Zaenal bahkan mengakui menerima Tunjangan Hari Raya (THR) dari sejumlah anggota dewan dengan variasi Rp2 juta hingga Rp100 juta, yang totalnya bisa mencapai Rp300 juta per tahun. Uang Rp1,4 miliar yang disita KPK dari rumahnya pun disebut berasal dari aliran dana ini.
Namun, di hadapan Majelis Hakim, Zaenal berubah haluan. Ia mengklaim telah mengurus ribuan proposal usulan hibah Pokir di luar tugas resminya tanpa mendapatkan uang lembur sepeser pun.
Mendengar hal itu, Ketua Majelis Hakim Ratna Dianing langsung menyanggah. "Kalau kerja di luar tugas resmi kan biasanya ada uang lembur. Saksi dapat berapa? Jangan-jangan sama dengan perkara P2SEM dulu yang juga mengaku tidak dapat apa-apa. Nanti kalau ditemukan bukti bisa jadi perkara sendiri lho," tegas Hakim Ratna.
Meski diinterogasi, Zaenal tetap kekeh menjawab, "Tidak pernah dapat uang lembur."
Pertanyaan besar kini muncul: Bagaimana Majelis Hakim akan menilai keterangan saksi kunci yang berbalik arah ini? Apakah status JC membuat keterangannya seolah bisa dianggap "lelucon" dan tidak perlu dipertimbangkan secara hukum?
Buku Catatan "Jatah" Dewan
Meski berubah keterangan soal uang lembur, Zaenal sebelumnya telah membenarkan isi buku catatan yang disita KPK. Dalam buku itu, terdapat rumusan pembagian alokasi anggaran hibah berdasarkan jabatan anggota DPRD Jatim.
Rinciannya sangat sistematis: masing-masing anggota DPRD memperoleh alokasi Rp10 juta. Anggota yang masuk Badan Anggaran (Banggar) mendapat tambahan Rp7 miliar. Wakil Ketua mendapat jatah Rp77 miliar (rincian: Rp60 miliar jatah Waket + Rp10 miliar jatah anggota + Rp7 miliar jatah Banggar). Sedangkan Ketua DPRD mendapat jatah lebih dari Rp70 miliar.
Tidak hanya itu, posisi Ketua Fraksi mendapat alokasi khusus Rp15 miliar, dan Partai Politik mendapat jatah Rp1 miliar untuk masing-masing kursi yang mereka miliki.
Modus "Satu Pintu" Anwar Sadat
Zaenal mengakui menangani usulan dana hibah selama 15 tahun (2008-2023) atas arahan pimpinan. Namun, khusus untuk usulan milik Anwar Sadat, Zaenal tidak mengurusnya langsung. Sadat memiliki "orang kepercayaan".
"Pernah saya ketemu Pak Sadad (Anwar Sadat), beliau pesan, 'Afif, nanti urusan Pokir saya satu pintu di Bagus'. Jadi kalau ada orang selain Pak Bagus yang datang membawa usulan, tidak saya terima," terang Zaenal.
Bagus Wahyudiono, staf honorer Sekretariat DPRD Jatim, menjadi penghubung tunggal. Sebelum sistem aplikasi SIPD diterapkan pada 2021, Bagus menyerahkan flashdisk berisi daftar nama Pokmas, alamat desa, jenis proyek, dan nilai anggaran. Setelah SIPD berlaku, akun dan password milik Anwar Sadat pun diserahkan sepenuhnya ke Bagus untuk memasukkan daftar usulan.
Akan Kah Gubernur Khofifah Dipanggil?
Di sela-sela skorsing sidang, beritakorupsi.co mengonfirmasi JPU KPK terkait nama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang masuk dalam Daftar Khusus Saksi (DKS). Apakah Gubernur akan dihadirkan seperti pada persidangan sebelumnya?
"Melihat persidangan selanjutnya, dan saat ini masih fokus pada saksi-saksi dulu," jawab JPU KPK singkat.
Publik tentu menanti kejelasan dan ketegasan JPU KPK maupun Majelis Hakim. Jika orang nomor satu di Jatim ini akhirnya dipanggil, masyarakat berharap KPK membuka Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi secara utuh dan transparan, bukan sekadar potongan-potongan seperti pada sidang terdakwa terkait dana hibah Pokir milik almarhum Kusnadi.
Ibarat peribahasa, "sekali mandi basah". Sekali hadir sebagai saksi, buka semua keterangannya dalam BAP agar masyarakat tahu duduk perkara yang sebenarnya.
Dan jika orang nomor satu di Jatim ini akhirnya dipanggil, apakah pihak Pengadilan Tipikor Surabaya akan menyediakan tempat transit atau sama dengan saksi lainnya duduk di kursi yang telah disiapkan?
(Tim Investigasi BERITAKORUPSI.CO)
Catatan Editor: Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi artikel berita ini tanpa izin tertulis dari redaksi.